Ayo Intip 11 Destinasi Wisata di Kota Kelahiran Jokowi

Solo, kota ini semakin bersolek dengan berbagai festival budaya yang bahkan menjadi agenda pariwisata Internasional. Di sela-sela menikmati kotanya yang berjalan lambat dan masyarakatnya yang ramah, aneka kuliner unik menunggu untuk di cicip

 

Kampung Batik Kauman

Foto dari Visitnesia.com

 

Berlokasi di dekat komplek Kraton, mayoritas penghuni kampung ini adalah para abdi dalem. Para pengrajin batik di Kauman mewarisi ilmu membatik di Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan keahlian tersebut, masyarakat Kauman menghasilkan motif-motif batik yang dikenakan keluarga Kraton. Kauman sendiri dikelilingi bangunan kuno yang bentuknya masih di pertahankan, sehingga saat berjalan-jalan disini siapapun dengan mudahnya melupakan waktu.

 

 

Pasar Klewer

Foto dari www.indonesiakaya.com

 

Pusat grosir batik terbesar di Solo ini namanya di dapat dari pedagang batik yang menjajakan batik dengan keranjang yang di panggul sehingga dagangan batiknya menjuntai (Klewer dari bahasa Jawa). Sudah ada sejak zaman Belanda, di pasar ini bila di temui batik cap seharga belasan ribu hingga batik tulis seharga jutaan rupiah.

 

 

Batik Danar Hadi

Foto dari www.boundfortwo.com

 

Belanja batik dengan nyaman sekaligus menambah wawasan tentang batik dapat dilakukan di Batik Danar Hadi ( www.houseofdanarhadi.com ) Jalan Slamet Riyadi 261. Menyimpan sekitar 10.000 kain batik dari seluruh Nusantara diantara koleksinya terdapat 1.500 kain di abad ke 19.  Danar Hadi sendiri bermula dari industri batik rumahan milik pasangan suami istri Santoso Doellah dan Danarsih Hadipriyono, yang merupakan anak dari Haji Bakri yang turut berperan dalam pembentukan  Serikat Dagang Islam tahun 1912 di Laweyan.

 

 

Pasar Gede

Foto dari www.soloevent.id

 

Berseberangan dengan Balai Kota, Pasar Gede yang dibangun oleh arsitek Belanda Thomas Kastarsten pada 1930 ini memadukan arsitektur Belanda dan Jawa. Dilindungi sebagai bangunan bersejarah, langit-langitnya yang tinggi membuat siklus udara lancar dan suhu didalam ruangan tetap sejuk  walaupun tanpa pendingin.  Sempat hancur ketika Agresi Militer Belanda tahun 1947 dan kemudian di renovasi pada 1949, pasar ini adalah tempat warga setempat berbelanja dan turis berburu oleh-oleh.

 

 

Laweyan

Foto dari www.merdeka.com

 

Selain Kauman, Laweyan juga terkenal sebagai kampung yang dihuni para juragan batik. Sejak abad 19, Laweyan dikenal sebagi kampung batik dan mencapai kejayaan pada 1970-an. Disini lah tempat berdirinya Serikat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan berdagang batik pada 1912. Mirip dengan Kauman, Kampung Laweyan juga memiliki bangunan tua dan gang-gang sempit dengan kios-kios yang memajang karya batik setempat.

 

 

Taman Sriwedari

Foto dari www.indonesiakaya.com

 

Berada di pusat kota, taman ini dibangun oleh Pakubuwono X sebagai tempat rekreasi dan tempat istirahat bagi keluarga kerajaan. Inspirasi sendiri datang dari sebuah mitos tentang taman surgawi. Banyak pertunjukan kesenian setiap akhir pekan, seperti tarian tradisional, wayang kulit, wayang orang bahkan dangdut di Taman Sriwedari. Sehingga setiap Senin hingga Sabtu pukul 20.00 digelar wayang orang Sriwedari dengan tiket Rp 3000 per orang. Dilengkapi beberapa restorant kecil dan stand souvenir. Taman rekeasi ini bermisi untuk melestarikan seni budaya.

 

 

 

Candi Sukuh

Foto dari www.triptrus.com

 

Siapa sangka bentuk candi yang ada di lereng Gunung Lawu ini mirip dengan Chichen Itza, situs sejarah di Meksiko yang merupakan peninggalan suku Indian Maya di abad ke 7 . Candi Sukuh yang sering salah kaprah dijuluki Candi Porno karena terdapat banyak relief Lingga dan Yoni (lambang kelamin pria dan wanita )ini deidedikasikan kepada kemegahan penciptaan dan kesuburan, sehingga relief Lingga dan Yoni tampak disana sini. Dalam mitologi Hindu, Lingga dan Yoni melambangkan Dewa Siwa dan istrinya Parwati dan Halini melambangkan kesuburan. Duduk-duduk sambil menikmati kemegahan candi kuno ini sambil deibelai angin pegunungan yang sepoi sepoi merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

 

 

Candi Cetho

Foto dari www.solo.tribunnews.com

 

Dalam bahasa Jawa, Cetho berarti jelas atau jernih. Berada pada ketinggian 1.400 meter di lereng Gunung Lawu, akses menuju Candi Cetho melalui jalan aspal sempit, curam dan berkelok-kelok. Disarankan untuk menyewa mobil dari Solo agar memudahkan perjalanan. Candi Cetho pertama kali di temukan sebagai reruntuhan dengan 14 teras berundak yang tersusun dari Barat ke Timur dengan pola susunan makin kebelakang dan makin tinggi sebagai bagian paling suci. Dari 13 teras, dengan sembilan diantaranya telah di pugarkan.

 

 

Kraton Kasunanan Surakarta

Foto dari Visitnesia.com

 

Baru memasuki gerbangnya saja, pengaruh Eropa sudah terasa di sekitar komplek Kraton yang didominasi warna biru-putih. Untuk menjelajah bagian dalamnya, pengunjung harus berpakaian sopan, selain harus membuka alas kaki untuk memasuk kawasan perpasir, pemakaian topi pun juga dilarang. Konon pasir disini berasal dari pantai selatan dan bila bertelanjang kaki diatasnya dipercaya baik bagi kesehatan. Menurut kepercayaan Jawa angka tujuh merupakan angka yang sempurna sehingga bangunan ini pun memiliki 7 pelataraan  dan tujuh gerbang.

 

(Jam operasional Senin – Kamis pukul 08.30-14.00, Sabtu – Minggu pukul 08.30-13.00)

 

 

Tawangmangu

Foto dari www.solo.tribunnews.com

 

Terdapat dua pintu masuk yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi fisik, yaitu gerbang satu atau gerbang utama dengan rute lebih panjang dan gerbang dua dengan rute pendek . Namun bila masuk dengan pintu satu atau pintu dua, kedua rute memiliki banyak gubuk dan bangku untuk beristirahat. Di sekitar air terjun banyak penjual sate kelinci dan ayam, yang sekaligus menawakan tikar untuk duduk-duduk dibawah pohon bagi yang ingin melepas lelah. Air terjun setinggi 80 meter yang tanpa henti memuntahkan air deras itu memang hiburan bagi warga sekitar, terutama di akhir pekan.

 

 

Pasar Windu Jenar

Foto dari www.solo.tribunnews.com

Sebelumnya dikenal dengan nama pasar Triwindu, karena dulunya pasar ini merupakan pasar yang digelar setiap tiga windu sekali, disinilah tempat berburu barang antik mulai dari koleksi batik, uang dan Koin Kuno, Peralatan Makan, Kain Batik, Topeng Gamofon Tua dari Eropa, Wayang , Sepeda Kuno hingga berbagai benda yang di klaim sebagai fosil makhluk purba dari Sangiran.

 

 

CV. Visitnesia.com

Tour – Thematic Tour – Honeymoon – Transport – Open Trip – Sewa Drone

WhatsApp: 0812 2667 2661

Artikel Selanjutnya Macam-macam tempat wisata di Bandung yang sedang Ngehits untuk para pemburu foto
Artikel Sebelumnya Memperingati Hari Raya Nyepi

LEAVE A REPLAY

Your email address will not be published. Required fields are marked *