Penanaman Pusaka Kalimasada di Gunung Balak

Penanaman “Pusaka Kalimasada” di puncak Gunung Balak oleh Syekh Subakir dan kawan-kawannya, bermakna sebagai penancapan Kalimah Syahadat di jantungnya Tanah Jawa, sebagai tanda masuknya ajaran agama Islam bagi penghuni Tanah Jawa kala itu. Kalimah Syahadat memperkenalkan Tuhan yang Esa, Tuhan yang pantas untuk disembah dan dipuja, Tuhan yang tak beranak maupun diperanakan. Juga sebagai Tuhan tempat mengadu dan meminta.
Adanya lingga dan yoni menjadi bukti, pada masa lalu puncak Gunung Balak menjadi tempat pemujaan umat Hindu. Karena bagi faham agama Hindu, tempat-tempat yang tinggi merupakan tempat persemayaman dewa-dewa dan sebagai tempat yang tepat untuk melaksanakan samadi.
Gunung Balak di wilayah kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu tempat spiritual dimana terdapat
pundhen berupa “makam pusaka” dan “yoni”. Gunung ini berada di wilayah desa Pakis dan desa Losari dengan ketinggian lebih kurang 885 meter di atas permukaan laut, dan terletak di koordinat 7º.27’.01” Lintang Selatan dan 110º.19’.30” Bujur Timur. Setiap bulan Sura di puncak Gunung Balak diselenggarakan acara ritual tradisional “Nyadran” oleh masyarakat desa-desa tersebut. Acara ini telah dilaksanakan secara turun temurun dan masih lestari sampai kini.
Dengan menapaki jalan berundak mendaki setinggi tidak kurang dari 210 tingkat, ribuan orang berbondong-bondong menuju ke puncak Gunung Balak. Mereka membawa
ubarampe nyadran berupa makanan dan minuman untuk disantap bersama seusai upacara Nyadran. Acara Nyadran ini bermakna untuk memohon berkah keselamatan bagi seluruh warga kecamatan Pakis dan para peserta acara ini yang juga dihadiri penyadran dari daerah lain.
Di antara para pengunjung itu, ada yang mengikuti acara ini sebagai ungkapan rasa syukur karena permohonan kepada Tuhan YME dengan laku spiritual di sini sudah terkabul. Banyak orang yang mengikuti acara ini untuk meminta berkah. Mereka memohon limpahan rejeki dan karunia dengan melakukan ritual khusus memanjatkan doa-doa keinginannya di makam Pusaka Kalimasada atau di dekat Yoni, lewat seorang perantara doa.
Kyai Ahmad Sirulloh, sesepuh Pondok Pesantren “Surya Buana” yang juga Juru Kunci Gunung Balak, telah meluruskan tata cara Nyadran itu, selaras dengan ajaran agama Islam. Dia menganjurkan, agar masyarakat memanfaatkan momentum acara Nyadran ini sebagai “peringatan dan sekaligus syukuran” masuknya agama Islam di Tanah Jawa. Karena puncak Gunung Balak ini mempunyai arti penting dengan masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam di Tanah Jawa.
Sejak tahun 2004 M (1425 H) – atas prakarsa Kyai Ahmad Sirulloh – tradisi lama Nyadran di puncak Gunung Balak yang sudah berpuluh-puluh tahun dilaksanakan yang bersifat ritual tradisional, dirubah menjadi acara yang dinamis penuh makna, bahkan penuh rahmat dan ridho-Nya. Dan acara ini dimaknai sebagai hari “Peringatan dan Tasyakuran masuknya Agama Islam di Tanah Jawa.”
Sejarah awal masuknya agama Islam ke Tanah Jawa tidak terlepas dari riwayat atau ceritera yang telah melegenda di daerah Magelang, yaitu peran ulama
Syekh Subakir, Syekh Jumadil Qubro, Syekh Maulana Maghribi, dan kerabatnya. Konon, para mubaligh dari Jazirah Arab ini mampu dan kuat masuk ke kawasan Tanah Jawa. Mereka memilih masuk ke Jawa bagian tengah lewat sebuah “gunung” yang letaknya tepat di tengah-tengah Pulau Jawa. Kala itu daratan Tanah Jawa sangat angker karena dihuni makhluk halus yang jahat. Sebelum penghuninya – para makhluk halus beserta tentaranya itu – diusir dari Tanah Jawa, para mubaligh itu akan sulit menyebarkan agama Islam disini. Untuk melawan kekuatan makhluk halus yang jahat itu, dari Jazirah Arab mereka membawa sebuah “Pusaka Kalimasada” yang bisa mengalahkan para makhluk halus itu.
Konon, sebelum Pusaka Kalimasada ditanam di puncak Gunung Balak, Syekh Subakir bermusyawarah dengan Kyai Semar di puncak sebuah gunung tidak jauh dari gunung Balak. Di puncak gunung inilah peti tempat menyimpan dan membawa Pusaka Kalimasada itu dibuka yang dalam bahasa Jawa:
“pethi-ne diudhar”. Tempat itu kemudian dinamakan “ Gunung Tidhar .” Dari puncak Gunung Tidar inilah kemudian Pusaka Kalimasada dibawa ke arah timur, sejauh 17 kilometer dan diusung ke puncak gunung untuk dimakamkan sebagai
“tumbal” (penolak bahaya) bagi
“wong sak alak-alak” (orang banyak). Itulah sebabnya, tempat menanam tumbal itu sampai kini disebut “Gunung Balak.”
Penanaman
“Pusaka Kalimasada” di puncak gunung Balak oleh Syekh Subakir dan kawan-kawannya terjadi pada bulan Muharram. Peristiwa ini bermakna penancapan
Kalimah Syahadat di jantungnya Tanah Jawa, sebagai tanda masuknya ajaran agama Islam bagi penghuni Tanah Jawa kala itu. Kalimah Syahadat memperkenalkan Tuhan yang Esa, Tuhan yang pantas untuk disembah dan dipuja, Tuhan yang tak beranak maupun diperanakan. Juga sebagai Tuhan tempat mengadu dan meminta.
Di puncak Gunung Balak ada benda-benda peninggalan purbakala berupa dua buah
yoni , bangunan lingga, dan sebuah “makam” (yang konon tempat makam pusaka) yang dikelilingi pagar tembok setinggi 1,5 meter dengan luas 4 m x 6 m. Makam pusaka itu hanya ditandai dengan tatanan batu-batu berkeliling. Batu yoni yang besar berukuran tinggi 62,5 cm, sisinya 74 cm x 74 cm, dengan lubang ditengah berukur 25 cm x 25 cm yang dalamnya 49 cm. Sedangkan yoni kecil berukuran tinggi 62,5 cm, sisinya 58 cm dengan garis tengah lubang 25 cm x 25 cm dan kedalamannya 49 cm. Cerat kedua yoni itu menghadap ke timur. Bangunan lingganya, menurut penuturan juru kunci sebagai bangunan baru, karena terbuat dari semen.
Yoni yang ada di puncak Gunung Balak itu oleh masyarakat setempat disebut
“watu kentheng” . Yoni kecil pada masa jaman Belanda dulu pernah dibuang ke sungai Sejarak yang mengalir di kaki utara Gunung Balak oleh orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan yoni di sini. “Namun aneh, dari sungai yang mengalir di kaki utara Gunung Balak batu yoni itu kembali ke tempat semula keesokannya harinya.” tutur Triyono seorang dalang wayang kulit yang juga menjabat Kepala Dusun Pakis Tengah, mengutip penjelasan yang ditulis mantan Kepala Desa Pakis, Suwandi. Kini batu yoni itu oleh pengunjung dimanfaatkan sebagai tempat membakar kemenyan dalam melaksanakan ritual spiritual di sini. Di lubang kedua yoni ini selalu terisi air yang konon tak pernah kering meski kemarau panjang. Bagi yang percaya, air itu sering diambil orang untuk keperluan penyembuhan penyakit atau keperluan lain.
Adanya lingga dan yoni, menjadi bukti pada masa lalu puncak Gunung Balak menjadi tempat pemujaan pemeluk agama Hindu. Karena bagi faham agama Hindu, tempat-tempat yang tinggi merupakan tempat persemayaman dewa-dewa dan sebagai tempat yang tepat untuk melaksanakan samadi.
Acara Nyadran di Gunung Balak tahun ini pada hari Senin Kliwon tanggal 2 Oktober 2017 Masehi atau tanggal 11 Sura 1951 Dal, dikemas sederhana dengan kegiatan membaca doa Tahlilan bersama. Mereka tidak saja datang dari Pakis dan sekitarnya, tetapi juga berasal dari daerah-daerah lain di Jawa Tengah.– (as)

Artikel Selanjutnya Sensasi Offroad dan Berfoto di Jeep Lava Tour Merapi
Artikel Sebelumnya Rangkaian Agenda Event Magelang 2018

LEAVE A REPLAY

Your email address will not be published. Required fields are marked *